“Abdullah
bin Umar berkata : “ Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda
: “Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca
Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak
sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar
dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang
tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur
plontos (Gundul).
(HR Bukhori) Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu
Daud, & Ibnu Hibban.
“Adalah mufti negeri Zabid, Sayyid Abdurrahman al-Ahdal, telah berkata; “Tidak butuh menulis bantahan terhadap kaum (Salafy-)Wahhabi. Bantahan terhadap mereka telah cukup dengan sabda ﷺ: “Tanda-tanda mereka adalah cukur plontos”. Karena cukur plontos belum pernah dilakukan oleh kaum ahli bid’ah selain Salafy-Wahhabi.”
Ketika
pernyataan Sayyid Abdurrahman al-Ahdal disebarluaskan oleh para
ulama, banyak kalangan yang meragukan kebenaran pernyataan tersebut,
jangan-jangan kaum Salafy-Wahhabi tidak menerapkan aturan kepala
plontos, & bahwa tanda-tanda kepala plontos dalam hadits di atas
hanya dihubung-hubungkan dengan kaum Salafy-Wahhabi. Akan tetapi
akhirnya, pernyataan tersebut semakin kuat, setelah kitab-kitab
Salafy-Wahhabi tersebar luas di dunia Islam, dimana dalam fatwa anak
cucu Muhammad
bin Abdul Wahhab & Hamad bin Nashir yang
dilansir dalam ensiklopedi al-Durar
al-Saniyyah fi al-Ajwibah al-Najdiyyah juz
4 halaman 152, dipaparkan bahwa :
“kepala plontos atau gundul adalah tradisi penduduk Najd, kaum Salafy-Wahhabi, & hanya orang-orang bodoh dari kalangan mereka yang tidak melakukan kepala plontos.”
Sebagaimana dimaklumi, kitab al-Durar al-Saniyyah fi al-Ajwibah al-Najdiyyah, adalah himpunan fatwa-fatwa pendiri Wahhabi & anak-cucu & murid-muridnya, yang dihimpun oleh Abdurrahman bin Muhammad al-‘Ashimi
“kepala plontos atau gundul adalah tradisi penduduk Najd, kaum Salafy-Wahhabi, & hanya orang-orang bodoh dari kalangan mereka yang tidak melakukan kepala plontos.”
Sebagaimana dimaklumi, kitab al-Durar al-Saniyyah fi al-Ajwibah al-Najdiyyah, adalah himpunan fatwa-fatwa pendiri Wahhabi & anak-cucu & murid-muridnya, yang dihimpun oleh Abdurrahman bin Muhammad al-‘Ashimi
Bercukur
gundul ini pun telah diakui oleh Tokoh mereka; Abdul Aziz bin Hamd
(cucu Muhammad bin Abdul Wahhab) dalam kitabnya Majmu’ah Ar-Rasaail
wal masaail : 578. Website resmi Universitas Islam Madinah, Kerajaan
Saudi Arabia Jami’ah Islamiyah bil Madinah al-Munawwaroh (Islamic
University in Madinah)juga menampilkan Pernyataan ini di
alamat:
“http://iucontent.iu.edu.sa/Shamela/Categoris/الفتاوى/مجموعة الرسائل والمسائل النجدية(الجزء الرابع، القسم الثاني)/380.html”.
“http://iucontent.iu.edu.sa/Shamela/Categoris/الفتاوى/مجموعة الرسائل والمسائل النجدية(الجزء الرابع، القسم الثاني)/380.html”.
Jika
diperbesar nampak sebagai berikut:
“…Karena
menggundul kepala adalah kebiasaan kami, & tidak pernah
ditinggalkan kecuali oleh orang-orang bodoh di antara kami.Maka
larangan tidak menggundul ini adalah larangan anjuran, bukan larangan
haram, sebagai langkah preventif. Juga karena orang-orang kafir di
zaman kami –baca: orang-orang Islam selain Wahhabi– tidak
menggundul kepalanya, sehingga tidak gundul itu adalah menyerupai
orang-orang kafir (yang itu diharamkan).(Tradisi bercukur gundul ini
saat ini sudah tidak dilakukan lagi).
oleh karenaya Rosulullah tak pernah mau memberkahi negeri najd atau riyadh yang sebagai pusat penyebaran ajaran baru wahabi berkedok atau bertaqiyah mengaku ngaku salafy untuk menarik dan menyesatkan umat islam bahkan RosulullAH MENYEBUT NAJD RIYADH TEMPAT MUNCULNYA AJARAN TANDUK SETAN FITNAHTAN LIL ALAMIN sebagaimana hadis sahih berikut :Ibnu Umar berkata, “Nabi berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, Terhadap Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, ‘Dan Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.’ Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, ‘Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.’” [HR Bukhari]
“Dari sinilah fitnah-fitnah akan bermunculan, dari arah Timur, dan sifat kasar juga kerasnya hati pada orang-orang yang sibuk mengurus onta dan sapi, kaum Baduwi yaitu pada kaum Rabi’ah dan Mudhar(mengurus duniawi ,petro dolar) “.(HR. Bukhari)
berikut ini letak najd atau riyadh sebagai pusat penyebaran agama wahabi
Untuk mengelabuhi dan mencari pengikut sebanyak banyaknya mereka mengganti manhaj mereka menjadi salafy :
*
Dalam bukunya yang berjudul as-Syalafiyah Marhalah Zamaniyah
Mubarokah La Madzhab Islami, Prof.
Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi mengungkapkan,
“Wahhabi mengubah strategi dakwahnya dengan mengganti
nama menjadi Salafy karena
mengalami banyak kegagalan & merasa tersudut dengan panggilan
Wahhabi yang dinisbatkan kepada pendirinya, Muhammad bin Abdul
Wahab”.
*
“Mereka mengubah
nama Wahhabi menjadi Salafy untuk
mengelabui umat Islam… juga, agar mereka merasa aman & nyaman
dari sorotan masyarakat dalam menyebarkan dakwahnya…”(Prof.
Dr. Ali Gomaa,
ulama besar Al-Azhar sekaligus mufti Mesir)


0 komentar